News Breaking
Live
wb_sunny

Dua Dalang Cilik, Pelestari Seni Pedalangan Batang

Dua Dalang Cilik, Pelestari Seni Pedalangan Batang


Batang - Pelestarian terhadap seni pedalangan dan wayang kulit terus berpacu dengan arus modernisasi. Terbukti secara perlahan bibit-bibit dalang cilik Kabupaten Batang mulai terlahir sebagai pelestari seni pedalangan dari kalangan generasi muda.

Salah satunya Beta Ardana Putra. Remaja yang saat ini duduk di bangku kelas dua SMP Negeri 1 Wonotunggal sudah tertarik dengan wayang sejak kelas tiga Sekolah Dasar.

“Suatu kebanggaan bisa jadi dalang cilik. Alhamdulillah latihannya masih rutin tiap hari Jumat dan Sabtu selama tiga jam,” kata Beta saat dihubungi melalui gawai, Minggu (15/8/2021).

Dijelaskannya, latihan yang diintensifkan adalah fokus pada sabet (gerak wayang) yang membutuhkan trik dan teknik khusus. Tokoh wayang yang paling diidolakan yaitu Raden Janoko karena memiliki sifat kesatria.

“Saya sudah mulai mendalang sejak kelas tiga SD dan sampai sekarang masih ada yang memanggil pentas. Saya bercita-cita untuk menjadi seorang dalang terkenal supaya bisa melestarikan budaya Jawa,” kata remaja yang sangat mengidolakan dalang kondang Ki Manteb Sudarsono.

Sebenarnya tokoh-tokoh pewayangan kita tidak kalah keren kok dengan super hero luar negeri, justru malah lebih menarik wayang.

"Ceritanya juga sangat menarik daripada dari luar, contohnya lakon Jarasanda Gugur, yang menceritakan tentang seorang raja yang penuh angkara murka,” jelasnya.

Bakatnya makin terasah berkat ketekunan dan dukungan dari ayahandanya Rasim. “Saya kenalkan Beta dengan tokoh-tokoh pewayangan, karena di rumah punya wayang kulit. Anak saya mengamati langsung, lama-lama dia kok senang dan tertarik,” katanya.

Di samping itu ada peran Ki Wiwit Sri Kuncoro yang selalu menggembleng Beta, hingga ia berhasil menyabet juara 1 Dalang Cilik Tingkat Nasional dan Juara Harapan 1 Tingkat Jawa Tengah.

Sementara Dalang Ki Wiwit Sri Kuncoro mengatakan, dalam mendalang itu butuh trik seperti cara sabet yang baik, sanggit (kreativitas dan olah rasa), ontowecono (menambahkan komentar) dan lainnya.

Ia memastikan, Beta masih bisa berkembang dengan maksimal. Maka kami berikan materi-materi supaya menjadi bekal, untuk menjadi dalang kondang yang melestarikan budaya adiluhung.

“Untuk jadi dalang kondang harus punya semangat tinggi, niat dan tekad. Mencintai budaya di masa sekarang itu, sudah jarang anak-anak yang mau belajar, tapi alhamdulillah masih ada generasi seperti Beta yang mau belajar mendalang, agar menjadi dalang yang mumpuni,” harapnya.

Bibit muda lainnya muncul dari Huda Erlangga. Ia mulai menyukai wayang karena kebiasaannya mendengarkan tembang-tembang Jawa dan menyaksikan pagelaran wayang kulit bersama kakeknya sejak usia dua tahun. “Sekarang sudah jadi dalang cilik, rasanya bahagia,” katanya.

Sejak kecil ia sangat mengidolakan tokoh wayang Werkudara, karena memiliki karakter satria yang tangguh.

Kurniatun, ibunda dari Huda Erlangga mengungkapkan, sejak berusia dua tahun, putranya sangat menyukai wayang.

“Kalau ada pagelaran wayang kulit, pas ada nyadran desa, harus pegang wayangnya dulu baru mau pulang,” tuturnya.

Setelah menyadari potensi terpendam, sebagai orang tua sebisa mungkin mencari media untuk menyalurkan bakat anak, dengan menitipkan kepada dalang Ki Tulus Utomo.

Untuk mengasah bakatnya, Huda mendapat kesempatan menunjukkan kepiawaiannya dalam pementasan perdananya saat peringatan Malam 1 Suro 1443 Hijriyah di Aula Kantor Bupati Batang dengan lakon Dursasana Gugur. (MC Batang)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar